Dub sedang duduk di kursi yang nyaman, di sebuah kedai kopi yang tak begitu ramai dan juga tidak terlalui sepi di bilangan sepanjang Selokan Mataram Yogyakarta. Ia sedang khusyuk menghisap rokok dan menekuri satu buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu-nya Puthut Ea. Namun di mejanya ada beberapa buku bertumpuk tidak rapi di antaranya The Stranger-nya Albert Camus, Arus Balik-Pramoedya Ananta Toer dan Sejarah Tuhan-nya Karen Amstrong.

Maklum, lelaki yang rambutnya sedikit kriting dan perut yang tambun memang pembaca buku yang tekun. Ia juga pernah menjadi aktivis kelas wahid dan ketua organisasi literasi di kampusnya.

Semua tempat duduk di kedai kopi tersebut penuh, hanya kursi di meja Dub saja yang kosong. Ia sedang sendirian. Ia tak juga sedang menunggu Nyuk dan juga tak berharap ada teman yang datang menyusulnya.

Beberapa lembar buku dan secangkir kopi sudah dinikmatinya, tiba-tiba lagu yang sebelumnya adalah Efek Rumah Kaca, berganti dengan Payung Teduh. Mengalunlah lagu merdu dan sendu serta meneduhkan dari pengeras suara kedai tersebut. Mengisi celah ruangan, di kolong meja, di bawah kursi, di dalam kenangan dan menyatu dengan aroma khas kopi tradisional.

Saat sedang asyik-asyiknya menikmati seuasana, muncullah seorang perempuan. Ia memakai kacamata hitam yang pas sekali dengan wajahnya yang putih, memakai cardigan panjang berwana blues, dan ada syal panjang membungkus lehernya, kemungkinan itu rajut dari Sumba atau Flores. Celana pensil berwarna abu-abu membalut kakinya yang semampai. Rambutnya dibiarkan terurai, beberapa menjadi poni yang indah.

Seperti ada panggilan Tuhan, di saat itulah mata Dub teralihkan dari bukunya tertuju pada perempuan manis yang sedang berdiri di depan meja barista mencari kursi duduk itu. Namun, Dub tetaplah Dub yang kita kenal. Laki-laki yang selalu bingung dan canggung menghadapi makhluk Tuhan bernama perempuan. Ia selalu merasa sebagai lelaki yang tak pantas dilirik oleh perempuan manapun. Padahal, jika dicermati dengan sungguh-sungguh, paras Dub mirip dengan Tom Cruise versi kriting dan gemuk, dan pesonanya tak kalah dengan Nicholas Saputra ataupun Ariel Noah.

Maaf, kursi ini kosong? Boleh bergabung?

Dub mengangguk pelan dengan penuh kesantunan dan pesonanya. Ia jelas tak tahu harus berbuat apa selain mengangguk. Payung Teduh sudah sampai pada lagu keberapa Dub sendiri lupa, tapi yang jelas Resah-nya Payung Teduh sedang mengalun merdu saat itu. Tiba-tiba setelah duduk, si perempuan tersenyum kecil.

Ini lagu favoritku, kau tahu lagu ini?”

Dub menggeleng, karena ia merasa lebih baik menggeleng daripada mengangguk. Sangat tidak mungkin Dub tidak mengenal Payung Teduh. Setiap kali air matanya mengucur, Payung Teduh-lah yang paling setia menemaninya.

”Gila ya, Payung Teduh bisa bikin lagu sebrengsek ini, liriknya mengandung magis, mereka mungkin lebih dari seorang musisi, mungkin filsuf kesedihan yang pandai bermusik”
Si perempuan dengan semangatnya menceritakan keelokan Payung Teduh. Rasa-rasanya Dub akan jatuh cinta, buku sudah ia tutup dengan canggungnya mencoba menjadi pendengar yang baik. Di tengah-tengah kekhusukannya mendengar, tiba-tiba dari wajah si perempuan terpendar cahaya. Perlahan cahaya tersebut mengitari rambut, bahu, juga dada yang gemas, lalu ke perut yang rata dan mengelilingi seluruh tubuh si perempuan. Mendadak si perempuan tampak seperti bidadari. Dub gemetar keras.

Kamu itu sedang membaca apa?”

Pertanyaan si perempuan membuyarkan Dub yang hampir terbang ke surga. Kembali kakinya menginjak tanah dan nafasnya sedikit tersengal ketika akan menjawab.

Ini buku ekonomi kah?”
Menarikkah belajar ekonomi?”

Dub tak kunjung sempat menjawab, kecepatan pertanyaan si perempuan itu rasa-rasanya lebih cepat dari kecepatan cahaya. Di tengah kegugupan ini, tak ada seorang laki-laki pun yang akan tampak pintar.

Ini novel bagus”

Dub menjawab sekenanya. Sejurus kemudian Dub menyulut rokoknya. Berharap gugupnya ikut terbakar.

Aku ingin berdua denganmu, di antara daun gugur.
Aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.

Sang perempuan ikut bernyanyi. Merdu, pikir Dub.

“Kamu kok sendirian?” tanya si perempuan.

Iya sendirian, sengaja memang. Teman-teman lagi ada acara diskusi di kampus, aku gak begitu suka diskusi. Lha mbaknya kok sendiri juga?

Iya sengaja sendiri juga, ingin minum kopi sendiri”

Dub cuma bisa tersenyum.

Jangan-jangan sedang ada masalah dengan pacarnya ya?” tanya Dub tiba-tiba mengagetkan si perempuan yang sedang mencicipi kopi pesanannya yang baru datang.

Ha...ha.. kok tahu?”

“Ummmm. Pernah jadi pemimpin di sebuah organisasi?” kejar Dub

“Wah, kamu Peramal?” Si perempuan tertawa. Menampakkan deretan gigi yang putih, bersih, cemerlang.

“Soalnya saya pernah baca. Dari penelitian tahun 2014 terhadap seribu orang yang minum dan datang ke kedai kopi, bisa ditarik garis besar sifat dan karakter seseorang berdasar pilihan pakaiannya. Hehe...”

Dub bersyukur, bisa berkata demikian. Rasa gugupnya seolah-olah benar-benar hilang sembari asap rokoknya yang mengembang di udara. Kini ia mulai mengeluarkan jurus dan pengetahuannya untuk membuat si perempuan terpesona: filsafat dan sejarah.

Selang beberapa waktu, tak jarang si perempuan tertawa lepas. Dub berkali-kali membenarkan rambut dan posisi duduknya. Si perempuan benar-benar tampak antusias.

“Oh ya?” si Perempuan tampak antusias dengan cerita Dub. Namun siapa yang nyana itu adalah sebuah pertanda. Tanda perempuan akan segera pamit

“Kukira Kamu pendiam. Tapi kalau sudah mulai bicara, kau mempesona.”

Dub tersipu, pipi gemuknya memerah, dadanya berdesir dan polah kakinya belingsatan. Kopi pesanan si perempuan sudah tandas, punya Dub masih setengah.

“Aku harus pulang.  Ada beberapa temanku ingin ke kos”

“Oke duluan saja”

“Tapi aku bisa ketemu kamu lagi?”

“Bisa kok. Atur aja waktunya.”

“Hmmm. Aku punya permintaan. Boleh pinjam bukumu?”

“Untuk?”

“Sekedar jaminan kalau kamu tak akan ingkar janji.”

Dub tersenyum lebar, merasa memenangi sesuatu. Ia menyerahkan sebuah buku karya Puthut Ea. Dengan segera buku yang sudah sedikit lusuh berpindah tangan.

“Kamu pernah dengar Silampukau atau Dialog Dini Hari?” tanya si perempuan.

Dub masih pura-pura dengan kebodohannya menyoal musik. Ia menggeleng.

“Mau dengerin gak?”

Dub segera mengangguk.
“Aku kasih rekomendasi ya. Dengerin lagu-lagunya. Cari di Youtube bisa kok. Nanti kasih pendapatmu soal itu. Biar kita ada bahan obrolan saat bertemu lagi,” ujar si Perempuan sembari menyerahkan secarik sobekan kertas bertuliskan nomer telepon selulernya. Dengan sebaris nama.

Sesaat setelah perempuan pergi, tubuh Dub ada yang menggoyang-goyang.

“Dub... Dub... Dub.... “

Ternyata tangan Nyuk yang menggerakkan tubuh Dub,

Jadi ngopi tidak? Jangan tidur terus...!!


Dub ingin misuh, tapi enggan. Ia justru kentut berharap kekecewaannya hilang seiring bau kentut yang berhembus ke segala arah.

Shidqi Ni'am


Di hari bapak sedunia beberapa saat yang lalu, bapak Dub sedang sedih-sedihnya karena di usianya yang harusnya sudah memliki 2 anak, beliau hanya bisa memelihara kumisnya agar tetap tebal mempesona dengan harapan akan segera menemukan calon Nyonya Dub. Si Bapak sudah kepalang bosan dengan kejombloannya yang makin menjadi-jadi. Ke sana ke mari hanya mendapatkan momen yang makin merusak kewarasannya; romantisme pasangan lain.

Dalam sehari, beliau sangat rajin berdzikir menyebut kata-kata kotor setelah melihat pasangan lain yang sedang bercanda dengan cemilan cubitan-cubitan mesrah si wanita kepada pria-nya, atau sedang bermanja ria di pangkuan si pria dengan panggilan kakanda. “Nggilani, cuih!!”. Ke-irian tak lagi terelakkan saat beliau sedang asyik stalking IG si Ree mantan yang masih dicintainya. Tak sengaja beliau melihat percakapan asyik Ree dengan pria ganteng di  kolom komentar salah satu foto postingannya dengan obrolan khas pembuka jalan menuju pacaran.

“Wes!! Mati ae aku!!”, sambil mengambil pisau yang sedang di arahkan ke urat nadinya dengan harapan segera selesai dari penderitaan nasib asmaranya yang terlalu kejam. Namun Bapak Dub mengurungkan  niatnya  karena takut dosa.

Bapak Dub berpikir keras untuk solusi lain yang bisa mengantarnya pada sebuah titik kebahagiaan nasib asmaranya. Alisnya bergoyang-goyang ke atas ke bawah sambil mengkerutkan garis dahinya yang kelewat lebar. Tak mungkin dia terus hidup begini. Tak mungkin dia masih melankolis setelah tahu bahwa bulu ketiaknya sudah panjang menandakan semakin tuanya umur beliau dan menyadarkan bahwa Ree tak bisa lagi dipaksakan menjadi sesosok Nyonya Dub.

“Aku harus mencari wanita untuk ku jadikan pelarian. Toh perasaan sayang akan datang seiring dengan waktu”, begitu pikirnya.

Akhirnya Bapak Dub menjelma menjadi binatang buas yang sedang birahi-birahinya berburu betina untuk dikawini. Segala bentuk persiapan berburu sudah disiapkannya, mulai dari paket data internet, buku panduan  gombal, sampai minyak wangi dari dukun sebelah rumah  pun siap untuk menjadi penyokong mulusnya jalan si Bapak Dub ini.

Beliau mulai membabi buta menyerang semua wanita yang dikenalnya di sosmed maupun secara langsung dengan kata-kata puitis yang memabukkan. Beliau menjadi sangat murahan hati dengan menyebar senyum yang menyilaukan. Giginya yang kuning mampu memancarkan kilatan cahaya pendobrak hati wanita gila.

Setelah seleksi sepihak yang terbilang cukup total itu, Bapak Dub mulai menetapkan pilihan pada satu wanita yang paling cocok menjadi korbannya. Karena sejatinya, beliau hanya mau berpasangan dengan satu wanita saja. Penyerangan acak yang dilakukannya tempo hari hanya seleksi awal saja.

Kataknlah namanya Dek Ning. Dek  Ning ini cukup terbilang cantik menawan yang kata banyak orang punya ‘senyum manis-manis jangan’. Entah apa cita-cita awal dari pencipta julukan aneh tersebut, namun yang pasti Mbak Ning ini memang rupawan.

Singkat cerita mereka sudah mulai bertukar pesan singkat. Bapak Dub mulai berani menguras isi dompetnya untuk investasi asmara. Ia mulai merayu dek Ning dengan kalimat-kalimat puitis menjijikkan.

“Kenapa mas Dub jadi makin perhatian mas?”

“Karena aku mencintaimu Dek Ning”

“Loh kok bisa mas? Kan kita baru kenal sebulan yang lalu? Lagian aku juga gak percaya sama kamu mas. Kamu kan sudah sering gombalin wanita lain mas.”

Bapak Dub tersentak. Beliau kaget dengan pernyataan dek Ning yang mengetahui apa yang sudah dilakukannya beberapa hari ini. Namun Beliau tak mau kalah atau pun menyerah. Beliau sudah mempersiapkan diri dari segala kemungkinan yang ada, termasuk situasi seperti ini. Beliau langsung mengutip kata dari Vino dalam film Malaikat Tanpa Sayap yang baru ditontonya beberapa hari yang lalu.

“Embun nggak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta. Sama kayak aku, aku nggak punya alasan nggak jatuh cinta sama kamu.”

“Alah aku tetep gak percaya mas. Mas kan emang jago ngegombal, jadi aku yakin itu bukan datang langsung dari hatimu mas. Aku gak mau salah pilih mas. Aku mau laki-laki yang bisa bener-bener mencintaiku. Dan....”

Bapak Dub langsung memeotong kalimat Dek Ning seraya berkata dengan lantang: 

Kalau kamu masih merasa aku ini orang yang akan menyesatkan masa depanmu, aku berjanji akan menyesatkanmu pada jalan kebahagiaan Dek. Terus tadi kamu mau ngomong dan apa?”

“...dan kamu jelek mas. Maaf aku gak mau sama kamu.”

Lalu dek Ning berlari meninggalkan bapak Dub yang masih melongo tak percaya akan nasibnya. Beliau masih terdiam terpaku seakan tak percaya bahwa setelah semua pengorbanannya yang total, beliau masih saja ditolak.

Seketika hujan turun membasahi kumisnya hingga makin tumbuh subur. Deras menggila mendatangkan banjir bandang. Ia menerjang keras tubuh lelaki tambun semampai yang hanya terbalutkan kulit itu. Arus deras membawa si Bapak Dub sang Ikon Jomblo Internasional ini berwisata ke seluruh saluran air di kota Bangkalan.


Kemudian beberapa hari setelahnya, mayat Bapak Dub ditemukan di dalam trotoar dekat Stadion Gelora Bangkalan dengan tali kutang yang tersangkut di kumisnya. Pada hari itu Bapak Dub dinyatakan gugur dengan  membawa semangat menolak kejombloannya.

Afif Zamroni HR

Gambar Oleh Null Mlongo

Waktu itu Nyuk sedang jongkok di WC dengan berbalut sarung yang dicincing (diangkat sedikit bagian ujungya). Perlu dijelaskan kenapa dia berjongkok di WC? Tidak. Lanjut cerita aja ya. Tiba-tiba, si Dub mendobrak pintu WC dan berdiri tepat di depan Nyuk yang sedang berjongkok!!

Nyuk: Duss!! Ngopo Kowe!! (Mbing -dari kata kambing-!! Ngapain kamu?!!

Dub: Tak critani Nyuk, ternyata bidadari tak tahan menunggu para paria salih di surga sana. Kini ia rela turun ke Bumi yang penuh dengan manusia nista seperti dirimu -juga diriku- ini.

Nyuk: Dhuss!! Meh nggedabrus? yoh kene tak rungokke.. (Kira-kira bahasa Indonesianya, "Mbing (singkatan Kambing), mau membual? sini tak dengerin.) Waktu itu Nyuk tetap dalam keadaan berjongkok. Tidak apa-apa kan? Tidak masalah kan? Tidak.

Dub: Lho, kali ini bukan bualan Nyuk. Ini benar terjadi. Aku sampai merubah kesimpulanku bahwa Cinta pada pandangan pertama itu hanyalah mitos belaka!! Aku langsung jatuh cinta kepadanya lho!! Dia benar-benar Peyempuan tercantik yang pernah kutemui di planet Bumi ini!! entah kalo di Planet Namex pun ada.

Nyuk: Weh, kayaknya serius nih Dub?

Dub: Ya Iyalah!! Serius banget!! Seserius kenyataan bahwa dia sudah punya pacar.. Kemudian aku menjadi syedih :-(

Nyuk: Ini bahuku Nyuk, selalu longgar dan kosong. Pakailah. Ku puk-puk dirimu.

Dub pun bersandar pada bahu Nyuk sembari sesenggukan mengucurkan air mata, melelehkan ingus dengan deras dan mengumpat 'Cinta i cen koyo Taek Nyuk!! Koyo Taek!!' (Kira-kira bahasa Indonesianya, Cinta itu memang kayak Tahi Nyuk!! Kayak Tahi!!)

Nyuk: Tahiku po? (Kotoranku kah??). Nyuk pun memandang ke arah bawah pantatnya.




    Illustrasi oleh @ali_luya dan Nul Mlongo
Hari itu sudah petang, Nyuk yang selalu inspiratif mendadak mendapat inspirasi untuk memfasilitasi kengangguran dirinya dan teman-temannya. Oh ya, banyak pengangguran yang tak mau menyibukkan diri dengan bekerja dan lebih memilih bersembunyi di balik pekerjaan menjadi Mahasiswa!! Mereka semua itu pemalas!! Juga Nyuk. Hehehe

Nyuk membuka laptop yang dibelikan oleh bapaknya dari hasil menanam padi. Laptop itu sesungguhnya diniatkan untuk memudahkan Nyuk dalam mengerjakan dan menyelesaikan kuliahnya. Tetapi kenyataannya justru lebih banyak digunakan untuk Facebook-an stalking gadis-gadis yang tak kunjung jadi pacarnya. Ah, tak apalah ya, yang penting niat awal beli laptop sudah bagus. Semua tergantung pada niatnya –niatan yang menggantung-. Bukan begitu? Bukan.

Nyuk membuka dari laptopnya. Setelah itu dia bergegas membuat sebuah status panjang dari wallnya. Isinya berupa semacam pengumuman makan bersama. Begini kira-kira:

“Undangan kepada semua teman-teman Jomblo Syar’i yang belum tentu menjomblo. Diberitahukan bahwa besok jam 15.00 WIB saudara Rahmat yang biasa dipangil Jamet menghendaki saudara-saudara sekalian untuk datang ke kosnya dalam rangka melaksanakan ritual Kopdar yang pertama. Kabarnya, beliau akan menyediakan kopi dan aneka makanan untuk menjamu kedatangan kita. Begitu kabar ini saya sampaikan mewakili Kak Jamet yang jarang membuka akun Facebooknya. Diharapkan kawan-kawan datang dengan tanpa membawa masalah. Bawa uang yang banyak boleh.”

Kalo kalian tidak tahu, Kopdar itu singkatan dari Kopi Darat, yang kami maknai sebagai minum kopi bareng-bareng di darat, bukan di dalam air. Di darat itu maknanya luas, bisa di pinggir jalan, di bibir pantai –maksudnya di pasir pantai-, di depan mall, atau di KOS JAMET, yang penting di daratan. Hehehe. Yang paling inti dari Kopdar itu ngopinya tidak boleh di dalam air, misalnya di laut, di dalam kolam renang, atau di dalam aquarium. Alasannya sederhana; biar gak basah.

Kopdar sendiri sebetulnya berfungsi untuk memfasilitasi kengangguran para punggawa Jomblo Syar’i di sela-sela pekerjaan mereka. Ya, mereka pekerja dan bukan pemalas, kau mau apa??!!

Oh ya, tentu Jamet tidak tahu kalo dia akan memiliki hajatan besar, yaitu acara Kopdar di kosnya. Semoga dia membuka akun Facebooknya sehingga menjadi tahu. Amin

***

Besoknya, Nyuk datang lebih awal ke kos Jamet. Bukan karena Nyuk orang yang rajin dan tepat waktu. Oh tentu bukan. Ini lebih disebabkan karena Nyuk ingin memastikan persiapan hajatan telah selesai. Minimal Jametnya tahu.

Waktu itu adalah hari yang sudah berbeda dengan hari sebelumnya. Nyuk sampai di Kos Jamet pada Jam 13.48 Wib. Jamet sedang menggulung tembakau dan di depannya ada segelas kopi hitam. Jamet memang begitu, di Zaman rokok sudah dibungkus rapi-rapi dengan berbagai gambar organ dalam, dia masih setia dengan mengelinting sendiri tembakaunya. Dia begitu tradisional. Tapi itu sedikit bohong, sebenarnya karena dia jarang punya uang untuk beli rokok bungkusan. Maaf Jamet, Nyuk harus jujur.

Jamet nampak sangat santai dengan kedatangan Nyuk, karena memang Nyuk sering berkunjung ke tempatnya untuk ikut menjaga budaya leluhur ngelinting rokok. Oh bukan, karena selain Nyuk gak mampu beli rokok bungkusan, Nyuk juga tidak mampu membeli tembakau. Maaf Nyuk, Penulis harus jujur.

“Dari mana e Nyuk?” Itu adalah sebuah kalimat pembuka yang bermakna hanya basa-basi.
“Dari kos, gimana Met? Jadi bikin acara Kopdar kan?” Itu adalah pertanyaan yang sebenarnya Nyuk ingin tahu apakah Jamet sudah mengetahui bahwa dia punya Hajat.
“Heh? Kopdar apa?” Si Jamet masih santai dengan lintingan Rokoknya.
“Kopdar Met, Kopi Darat, kumpul-kumpul dengan Jomblo Syar’i.”
“Iya tau Nyuk.. tapi kapan dan dimana?”
“Kan jam 15.00 Wib nanti di sini? Gimana si kamu masak lupa?”
Si Nyuk membuka m.Facebook –biar gratis- dari Hand Phonenya, lalu membuka statusnya dan memperlihatkannya kepada Jamet.
“Ini buktinya kamu akan menyelenggarakan hajatan Kopdar Met.”
Jamet membaca status Nyuk yang berupa undangan Hajatan Kopdar.
“Bajingan!! Ini serius Nyuk?”
“Lha kok kamu tanya aku, mestinya aku tanya kamu.”
“Ah, taik kamu.”

Sambil berbicara begitu Jamet lalu bergegas berdiri membersihkan dan merapikan kamanya yang kotor juga berantakan. Mukanya tidak nampak kesal atau semacamnya, dia malah tertawa sambil terus mengumpat dan membersihkan kosnya. Sedang Nyuk hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Beberapa jam kemudian, para rombongan Jomblo Syar'i datang. Mereka itu adalah Tanakung, seorang penasihat spiritual kawula Jomblo Syar'i, dia datang dengan membawa kayu manis dan gula jawa. Kemudian ada lagi si Nul Mlongo, dia adalah tukang gambar di Jomblo Syar'i, dia datang dengan membawa Tepung dan tempe. Juga ada si Ali Luya, dia adalah Designer kawakan di Jomblo Syar'i juga, dia datang dengan membawa harapannya yang pupus pada setiap perempuan. Oh ya tentu saja, datang juga seorang paria sensasional, si Dub yang memiliki gagasan tentang Kopdar, dia datang dengan membawa perut yang -buncit- lapar. Kemudian datang juga yang lain-lain, dan lain-lain dengan membawa segala perlengkapan sembako untuk memasak. Kenapa mereka membawa segala perlengkapan itu? Karena mereka baik dan disuruh oleh si Nyuk.  Syukur mereka mau disuruh.

Ah Jamet, kamu memang tidak pemarah, maka janganlah marah karena Nyuk juga tidak benar-benar ingin merepotkanmu kecuali masalah tempat dan perlengkapan masak yang memang sudah kamu punya. Nyuk sendiri telah membawa Gula dan Kopi wahai Jamet. Maka mereka pun memulai acara memasak dan menyeduh kopi. Tak lama semua sudah siap, mulai dari gorengan tempe atau yang selanjutnya disebut mendoan, juga kopi dengan resep khas gula jawa dan kayu manis bikinan si Nyuk. Ah, akhirnya semua tertawa, semua saling olok tapi tak ada yang terluka. Semua bahagia, semua bahagia!! Alhamdulilah ya..

M Adlan AA

Waktu itu Nyuk sedang menonton sinetron. Di dalam sinetron tersebut terdapat adegan perselingkuhan antar sahabat. Nyuk kemudian membayangkan hal itu terjadi padanya dengan si Dub. Si Nyuk pun hanyut dengan perasaannya, dia lalu tergopoh menuju si Dub yang waktu itu sedang asyik memanjat buah 'kersen'. Dari bawah Nyuk mendongak ke arah Dub dan berteriak.

"Mana mungkin pacarku selingkuh denganmu Dub!! Sedang aku gak punya pacar...!"

Nyuk pun menangis, berlari, pesan tiket ke Mars dan segera pulang ke kampung halaman. Sedang Dub hanya mendomblong saja di atas sana, ekspresinya agak mirip kayak 'ketek ketulup'.



     Menikmati senja dijadikan kesibukan setiap hari buat Dub dan Nyuk. Bagi kebanyakan orang, menikmati senja hanyalah kenikmatan tersendiri di sela-sela kesibukan bekerja sehari-hari yang entah untuk bayar hutang, cicilan rumah dan atau menabung untuk menikah. Tapi Nyuk dan Dub, karena hidupnya sangat penuh dengan kesendirian, maka seolah-olah senja menjadi teman wajib atau bahkan juga dijadikan pacar yang cerewet dan bawel oleh mereka -meski senja itu sendiri selalu bisu-. Nah, disela-sela kesibukannya berpacaran dengan senja, henpon Nyuk berdering kencang sekali. Sesaat henpon itu dibiarkan lama berdering. Maklumlah, memang jarang sekali ada yang menelpon, sehingga volume dimaksimalkan dan tak kunjung diangkat untuk pamer. Dasar memang prilaku Nyuk, ia menunggu orang-orang sekitar jengah dan merasa bising akan henpon si Nyuk. Tak terkecuali si Dub. Akirnya Dub pun tak tahan.
     
     “heh Wedhus, henponmu jerit-jerit kaya perawan meh dirabi dudo. Angkaten!!!” (Perkiraan Bahasa Endonesianya: "Heh Kambing, henponmu menjerit seperti perawan yang akan dinikahi duda. Angkat sana!!

     “Sengaja Dub!!! biar dikira aku orang sibuk dan punya pacar.”

     “Haha, hobi banget berpura-pura bahagia”

     Si Dub melongok henpon si Nyuk, ia penasaran siapa yang mengganggu kencan mereka di tengah menikmati senja indah ini sembari berpegangan dengan tangannya masing-masing, Dus. Tiba-tiba si Dub kaget kaya bayi kesurupan wedhus udho (kambing telanjang).

     “heh goblok... mbokmu kui sing nelpon!!!!” (Perkiraan Bahasa Endonesianya: Ibumu itu yang telphone!

     Sejurus kemudian si Nyuk langsung misuh (Mengumpat)
     
     “Hazingaaaan!!!!!!” (Baca: "Bajingan!!") 

     Setelah misuh langsung dengan mesranya si Dub merapikan rambut si Nyuk agar lebih terlihat rapi, seperti akan bertemu dengan camer (calon mermut!!!) dan si Nyuk membenarkan posisi duduknya agar lebih tegap dengan harapan agar suara lebih terdengar halus, sopan dan hormat.

     “selamat sore ibunda... assalamualaikum” Nyuk mengangkat telepon dan mengawali pembicaraan.

     “wa'alaikum salam.. Ibunda? Biasane ning omah wae ngundang mak'e, cik gaya ibunda-ibunda” (Perkiraan Bahasa Endonesianya: Biasanya di rumah aja manggilnya 'Mak e'. Gaya betul pake panggil Ibunda segala".

      “Ben ketok lebih sopan, hangat dan sayang Mak”  ((Perkiraan Bahasa Endonesianya: Biar kelihatan sopan, hangat dan sayang Mak.)

     Setelah bilang begitu, si Nyuk menyeringai kepada si Dub yang dari tadi sebenarnya tidak sama sekali mendengarkan perbincangan hangat antara Ibu dan Anak. Tapi dalam hati, si Dub ingin duplak raine (nendang wajahnya) !!!

     “Heh Nyukku tersayang, awakmu (kamu) gak perlu gaya kaya orang-orang kota, cukup dadi awakmu wae (kamu sendiri), Mamak sudah bangga”

     “Nggih mak, I love you mak” (Perkiraan Bahasa Endonesianya: Iya Mak, I love you Mak)

     “Awakmu kesurupan tah, nek ngomong karo Mamak ora perlu gawa bahasa aneh.” (Perkiraan Bahasa Endonesianya: "Kamu kesurupan? kalo ngomong sama Mamak gak perlu pake bahasa yang aneh")

     Sebenarnya, telpon dari rumah kadar kebahagiaannya cukup kecil dibanding dengan nilai kesengsaraannya. Selama percakapan panjang antara Ibu dan Anak tadi, si Nyuk selalu mencoba menghindar, setidaknya mengalihkan pemikiran si emaknya untuk tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang nabi pun cukup sulit untuk menjawabnya. Dan pertanyaan itu seperti tahi yang sudah ditahan beberapa jam di perut. Ditahan lebih lama lagi akan mengakibatkan keluar sedikit beriringan dengan kentut. Keluar ampasnya.

     “Nyuk, kapan awakmu lulus kuliah?” (Perkiraan Bahasa Endonesianya: "Nyuk, kapan kamu lulus kuliah?")

     Pukimaaak!!! Si Nyuk bingung tak karuan. Jurus mengalihkan perhatian yang sudah ia lakukan dari awal pembicaraan gagal begitu saija. Si Nyuk menatap tajam si Dub, berharap mendapatkan jawaban setelah melihat muka si Dub yang hantu sekalipun tak berani menggodanya ketika sedang melawat ke kuburan.

     “Secepatnya mak... nembe digarap (Baru dikerjakan) Mak”

     “Heh Nyuk!!! Aja ngapusi (jangan membohongi) mamak terus, sudah 2 tahun awakmu (kamu) ngomong garap (ngerjain) skripsi, ning ora lulus-lulus (tapi gak lulus-lulus)!”

     “nggih mak, niki nembe digarap” (Iya Mak, ini sedang dikerjakan.)

     Si Nyuk sudah mulai keringat dalam, basah ketiaknya, semakin bau juga. Maklum, mana ada laki-laki jomblo setiap hari mandi minimal 2 x sehari. Kampungan itu!! Sampailah pada akhirnya, si Emaknya Nyuk pun memberikan petuah yang sama sekali tak kalah dari seorang Mamah Duhdek ataupun Mario Teduh sekalipun.

     “Nyuk, hidup memang sulit. Mamak mengerti betul awakmu susah bertahan hidup di tanah rantau. Mamak juga sadar, uang saku yang mamak kirim tidak lagi cukup, apalagi ada tambahan kegiatanmu yaitu ngopi dan udud bersama si Dub. Mamak juga merasa bersalah, dengan minimnya uang yang dikirim, tentu Nyukku tersayang bakal susah mengajak perempuan untuk hanya sekedar makan malam, atau mengajak bermalam di pantai”

     Hazingaaan!!!! Mamak mengerti betul keadaan si Nyuk. Tapi setidaknya si Nyuk dan si Dub tidak seperti mahasiswa tua pergerakan lainnya, yang mbribik-mbribik adik kelas dengan modus makrab dan tetek bengek lainnya yang dibungkus dengan idealisme perjuangan. Mereka memang tai. Tapi bagaimanapun caranya, mbribik perempuan itu tak jauh-jauh dari uang. Semakin bagus modalnya, semakin bagus hasilnya.

     “Hidup itu memang tidak bisa ditebak Nyuk. Hidup ini hanyalah -gantian-”

     “gantian mak? Maksudnya mak?”

     “Ya kadang hidup itu ya gantian, kadang di atas, kadang dib awah” Jancuk!!!! si Nyuk misuh di dalam hati. Tentu buat dirinya sendiri. Mana berani si Nyuk misuh kepada emaknya tercinta. Bisa kuwalat.

     “nggih (iya) mak”

     “Nah, saat ini gantian Nyuk, gantian mamak karo bapak biaya-ni sekolah adekmu, wayahmu wis rampung Nyuk, golek duit dewe ya”

     Si Nyuk shock tak tertolong. Ini seperti semacam kiamat kecil buat si Nyuk. Dampaknya bisa berdampak dengan tingkat keagamaan si Nyuk yang akan meningkat. Dengan adanya krisis ekonomi, si Nyuk dipastikan akan sering berpuasa dan pergi sembahyang. Dan sejurus kemudian si Nyuk melakukan gebrakan jalan keluar.

     “tut...tut...tut...”

     Si Dub tak menyangka, si Nyuk berani-beraninya mematikan telpon dari mamaknya tercinta. Setelah mematikan henpon dilanjut dengan melepas batre. Selang lima menit kemudian si Nyuk es-em-es emaknya tercinta.

     “Punten mak, wau batrene telas, wau matur nopo geh? kulo boten kepireng..” (maaf Mak, tadi batraynya habis, tadi bilang apa ya? Saya gak kedengaran.) jurus jitu bagi mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung selesai dengan skripsinya; Matikan handphone kembali,. Mlipir (pergi menghindar).

     "Duss!!"